Saya tidak kaget ketika itu. Tetapi, apakah saya sedih atau tidak? Saya tidak tahu. Siang itu tanggal 27 Januari 2008. Seorang teman membawa kabar bahwa pada pukul 13 lewat 10 menit waktu Indonesia bagian barat, mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.
Pada malam harinya, saya mendengar dari siaran berita di radio bahwa karangan bunga masih terus berdatangan ke rumah duka keluarga Pak Harto di jalan Cendana, Jakarta. Sumber lain memberitakan bahwa disiapkan 11 pesawat untuk mengantar jenazah Pak Harto ke tempat pemakaman di Astana Giribangun, Solo. Pesawat-pesawat itu diperuntukkan bagi Keluarga Cendana, pejabat negara, tamu negara, dan TNI. Bahkan sebuah pesawat diperuntukkan khusus untuk membawa karangan bunga.
Masih ditanggal 27 Januari, malam itu langit tetap berbintang. Bulan, walaupun tidak purnama lagi tetapi tetap bercahaya. Hanya saja awan kelabu tak mau pergi dan menutupi rembulan yang tak lagi purnama itu.
Berhari-hari setelah tanggal itu, media-media masih memberitakan tentang meninggalnya Pak Harto. Kesan-kesan terhadap beliau selama menjadi presiden, baik itu dari orang-orang terdekat beliau maupun dari masyarakat, turut juga dipublikasikan dan didokumentasikan oleh media. Dari berita-berita dan informasi di media, saya melihat bahwa masih ada masyarakat yang menuntut agar penegakan hukum terhadap pelanggaran yang dilakukan Pak Harto tetap terus dilanjutkan. Ada juga yang mencoba membandingkan kondisi Indonesia dibawah kepemimpinan Pak Harto dan presiden-presiden setelahnya. Dan dari media juga, saya bisa tahu bahwa ternyata tidak sedikit masyarakat yang ikut bersedih atas meninggalnya beliau. Dan akhirnya bendera pun dikibarkan setengah tiang. Tetapi, apakah saya bersedih atau tidak? Jawabannya: ya. Sebab saya bisa menemukan cukup alasan untuk turut bersedih. Barangkali begitulah, kalau masalahnya hanya terletak pada rasa.
PROGRAM PENGHIJAUAN DI JALAN TOL TAHUN 2010
-
Penghijauan Jalan tol akan dilaksanakan
16 tahun yang lalu
