Ramadhan 1429 H. Bulan puasa tahun ini, operator seluler yang layanannya telah saya gunakan beberapa tahun lamanya memberikan layanan sms nol rupiah. Layanan ini dapat digunakan pukul 00.00 hingga pukul 06.00. Salah satu tujuannya adalah memberikan layanan pesan pendek gratis disaat-saat makan sahur. Tujuan lainnya, barangkali, adalah untuk menarik pelanggan baru dan untuk lebih mengikat loyalitas pelanggannya. Untuk tujuan yang kedua ini, saya belum tahu berapa jumlah pelanggan baru yang berhasil ditarik dan berapa jumlah pelanggan yang tetap setia. Tetapi untuk komunikasi murah melalui pesan pendek disaat-saat makan sahur, sedikit banyaknya saya bisa mengetahui pengaruh dari sms nol rupiah ini.
Jika selama ini hape saya kadang hanya menerima dua atau tiga pesan per hari, maka sejak layanan ini disediakan hape saya bisa menerima hingga belasan pesan per hari. Dan tentunya pesan yang paling banyak masuk terjadi pada subuh hari. Saya membayangkan jika pada rentang waktu enam jam itu, semua pelanggan operator seluler ini, yang jumlahnya puluhan juta itu, semuanya memanfaatkan layanan ini. Maka akan ada puluhan juta pesan yang berseliweran di udara Indonesia. Dari timur ke barat dan dari utara ke selatan. Dan itu kalau setiap nomor hanya mengirimkan satu pesan ke satu nomor lainnya. Bagaimana jika pesan itu dikirimkan ke banyak nomor yang berbeda? Belum lagi jika pesan yang dikirim itu mendapat tanggapan balik dari si penerima. Bukankah akan ada ratusan juta pesan yang akan berlomba menuju pusat pengiriman pesanuntuk kemudian berlomba lagi menuju nomor tujuan masing-masing? Bahkan ada teman saya yang menerima sembilan pesan masuk sekaligus dari satu nomor dan ternyata bunyi pesannya sama. Barangkali ini disebabkan oleh: nol rupiah. Mumpung nol rupiah, bro!
Saya juga tidak ketinggalan memanfaatkan layanan sms nol rupiah ini. Pada saat bangun sahur, terkadang saya mengetikkan kata sahur kemudian kata sahur ini saya ulang hingga tiga kali. Setelah itu saya mengirimkannya ke banyak nomor. Setelah beberapa saat, dari pesan sahur yang saya kirimkan ini ada beberapa pesan balik yang saya terima. Biasanya bunyinya seperti ini: sahur… sahur… sahur…! Tanggapan lainnya: iya, makasih bro, sudah dari tadi sahurnya. Atau jika terkirimnya pesan agak tertunda atau si penerima pesan terlambat membacanya, maka tanggapan balik yang masuk biasanya berbunyi: sudah mau imsak, bos!
Dari pengalaman ber-sms di saat sahur ini, saya jadi bertanya-tanya: rugi atau untungkah si operator penyedia layanan sms nol rupiah ini? Begitu banyak orang memanfaatkannya tetapi hanya dikenakan tarif nol rupiah. Tetapi, agaknya saya tidak perlu terlalu lama berkutat dengan pertanyaan saya tersebut. Karena ini bisnis pastilah tidak ada yang ingin mengalami kerugian. Saya yakin penerapan ilmu matematika mereka sangat baik sehingga untuk urusan kali-kali, bagi-bagi, tambah-tambah dan kurang-kurang tidak usahlah diragukan. Apalagi, sekali lagi, ini bisnis. Yang membuat saya masih bertanya-tanya adalah pada beragamnya pesan-pesan hasil kreasi yang sering masuk di hape saya. Setelah membaca pesan-pesan ini saya kadang tersenyum-senyum dan terkagum-kagum sendiri sambil mata saya masih menatap ke layar hape. “Manusia-manusia ini mendapatkan kalimat-kalimat ini dari mana dan dari siapa?” pertanyaan ini yang seringkali saya tanyakan pada diri sendiri.
Bayangkan saja. Saya pernah menerima pesan dari seorang teman. Saking panjangnya pesan teman saya ini sehingga untuk sampai ke nomor saya, pesan tadi harus dikirim dua kali. Saya kaget pada saat namanya dua kali tertera di inbox hape saya. Ada apa gerangan. Maklum saja teman saya ini lama tidak menghubungi saya. Saya membutuhkan waktu beberapa lama untuk membaca pesannya yang panjang itu. Dari bunyi pesannya, agaknya teman saya ini tidak merasa puas jika tidak merangkainya dengan kata-kata yang panjang dan menghibur. Agak lama saya membacanya dan memang agak panjang pesannya. Tetapi akhirnya saya hanya tersenyum karena ternyata inti pesannya sederhana: sahur… sahur… sahur..!
Saya punya kebiasaan menyimpan pesan masuk hingga berhari-hari di inbox hape saya. Dan ini menjadi kesenangan tersendiri bagi saya jika kemudian saya membacanya kembali untuk beberapa kali.Tetapi sejak adanya sms nol rupiah, ada banyak pesan masuk yang setelah sekali membacanya saya langsung menghapusnya. Tak perduli itu dari siapa dan tak perduli seberapa menghibur dan kreatif bunyinya. Saya menganggap pesan-pesan ini kurang memberikan manfaat sehingga tidak perlu berlama-lama mengisi inbox hape saya.
Akhirnya, dengan seluruh maksud baik dibalik semua pesan yang masuk ke hape saya, bolehlah saya berharap bahwa dilain hari saya tidak hanya dibuat tersenyum-senyum ataupun terkagum-kagum sendiri di depan layar hape. Tetapi, dilain hari itu, saya juga bisa dibuat merenung dan terjaga dari keterlupaan saya selama ini. Mumpung nol rupiah, Bro!
Saya membalik lembaran kalender yang tergantung di dinding kamarku. Sebulan telah berlalu dan kini saya membuka lembaran kalender untuk bulan yang baru. Sekarang bulan Juni. Kegiatan perkuliahan disemester genap tahun ajaran kali ini telah selesai. Itu berarti telah genap pula 12 semester saya berkuliah di kampus ini. Menurut peraturan akademik di kampusku, masa studi maksimal yang diberikan kepada seorang mahasiswa adalah 7 tahun atau 14 semester. Jika selama waktu tersebut seorang mahasiswa tidak mampu menyelesaikan studinya, maka menurut peraturan akademik mahasiswa yang bersangkutan akan dikeluarkan atau didrop out (DO). Tetapi, saya yakin bahwa saya tidak akan menghabiskan waktu selama itu untuk meraih gelar kesarjanaan. Karena pada semester kali ini, semua mata kuliah saya telah rampung. Saya hanya menyisakan KKN dan Tugas Akhir. Dua agenda yang terakhir ini saya targetkan akan rampung pada semester awal yang akan datang, yang baru akan dimulai pada pertengahan Agustus nanti.
Sekarang masih bulan Juni, ini berarti bahwa ada jeda panjang kurang lebih dua bulan untuk aktifitas perkuliahan sebelum dimulai kembali pada Agustus mendatang. Dulu, diawal-awal menjadi mahasiswa, masa-masa jeda seperti sekarang ini oleh sebagian mahasiswa dimanfaatkan untuk memprogramkan semester pendek guna memperbaiki nilai-nilai yang belum memuaskan pada semester panjang yang telah dilalui. Bagi teman-teman yang aktif di Lembaga Kemahasiswaan, waktu jeda ini dipakai untuk mempersiapkan acara Penyambutan Mahasiswa Baru. Dan sebagian lagi memanfaatkannya untuk berlibur dan pulang ke kampung halaman masing-masing. Untuk urusan pulang kampung ini, saya termasuk mahasiswa yang kurang berpengalaman alias jarang pulang kampung. Pada saat jeda semester ditahun pertama, saya mengisinya dengan memprogramkan semester pendek. Ketika itu saya berharap semoga mata kuliah yang akan saya programkan pada semester penjang berikutnya bisa saya lulusi dengan memuaskan sehingga saya tidak perlu lagi memperbaikinya pada semester pendek yang akan datang. Dengan berharap begitu, mudah-mudahan jeda panjang ditahun depannya bisa saya manfaatkan untuk pulang ke kampung. Jadi, biarlah kerinduanku kepada kampung halaman saya simpan dulu hingga menumpuk untuk dibawa pulang ditahun berikutnya. Tetapi, pada tahun berikutnya saya juga tidak jadi pulang. Ini disebabkan karena nama saya masuk dalam daftar kepanitiaan Penyambutan Mahasiswa Baru di fakultasku.
Sekarang bulan Juni. Dan jeda panjang datang lagi. Juni kali ini adalah Juni yang keenam kalinya saya dapati selama saya berstatus mahasiswa. Dan tidak sekalipun saya memanfaatkannya untuk pulang ke daerah saya. Informasi mengenai perkembangan daerahku saya bisa mendapatkannya dari teman-teman yang sempat pulang atau dari adik-adik sekampungku yang datang ke daerah ini untuk mengikuti SPMB. Dari dua sumber ini saya bisa tahu kalau jalan-jalan di daerahku telah dipasangi lampu jalan. Tentang lampu jalan ini, menurut cerita dari teman-teman, jika kita memandang dari atas kapal yang akan berlabuh dimalam hari, maka cahaya lampu di sepanjang jalan di tepi pantai menjadikan daerahku yang kecil itu menjadi mirip kota Hongkong. Apakah mirip atau tidak, bagi saya itu tidak jadi soal. Dipasangi lampu jalan saja saya sudah cukup senang. Saya bisa membayangkan jalan-jalan di daerahku pasti tidak lagi segelap dulu ketika saya meninggalkannya.
Soal keramaian kota di daerahku, saya mendapatkan kabar bahwa daerahku masih tetap seperti dulu. Untuk menemukan keramaian kota, kita hanya perlu datang ke pasar sentral yang letaknya di tepi pantai. Pasar sentral ini adalah satu-satunya pasar yang terdapat di kotaku. Jangan berharap akan menemukan keramaian kota dimalam hari seperti di kota-kota besar. Di kotaku ini, jika waktu telah menunjukkan jam 10 malam, kebanyakan masyarakatnya sudah tidur terlelap sebab tidak ada tempat hiburan keluarga yang bisa dikunjungi dimalam hari.
Saya juga mendapatkan informasi kalau keadaan lingkungan di sekitar rumahku di kampung sudah tidak seramai dulu lagi. Ini disebabkan anak-anak disana kebanyakan telah tamat SMU dan memilih untuk merantau ke daerah lain. Entah itu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ataupun untuk mencari pekerjaan, atau untuk sesuatu yang entah. Teman-teman sepermainanku dulu juga telah pergi merantau dan kabarnya mereka juga jarang pulang seperti saya. Kondisi ini pula yang menjadi salah satu alasan saya tidak pulang kampung pada saat jeda panjang disetiap akhir semester.
Saya ingin bercerita sedikit tentang rumahku, rumah dimana saya tumbuh dan dibesarkan, yang saya tinggalkan 6 tahun yang lalu. Rumah saya ini terletak di sebuah lorong setapak. Di kiri dan kanannya tidak terdapat banyak rumah. Setelah 6 tahun berlalu hanya ada beberapa rumah baru yang bertambah di sekitarnya. Dan ini tetap saja tidak mengganti keramaian yang dulu pernah ada disana. Rumah saya ini berbatasan langsung dengan hutan. Karenanya, bila malam hari tiba masih sering terdengar suara babi hutan yang keluar untuk mencari makan di kebun sekitar rumahku. Suara jangkrik adalah bunyi yang akan selalu terdengar mengiringi tidur lelap dimalam hari. Kadang-kadang juga terdengar suara burung hantu dari atas pepohonan di tepi hutan. Bila musim jambu mete tiba akan sering terdengar suara kelelawar yang berebut memakan buah jambu mete. Bagi saya, semua itu adalah satu paket lengkap yang menjadikan suasana malam hari di kampungku terasa begitu alami.
Di sekitar rumahku juga tumbuh berbagai jenis tanaman bambu. Ada jenis bambu pagar, yang ditanam sebagai pagar hidup. Ada bambu buluh yang ruasnya panjang-panjang dengan diameter batangnya kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Dan ada pula jenis bambu yang panjangnya bisa mencapai 20 meter. Dari tanaman bambu ini, anak-anak di kampungku biasa memanfaatkannya sebagai bahan pembuat kerangka layang-layang.
Musim layang-layang di kampungku pasti ramai sebab bertepatan dengan masa liburan panjang anak sekolah yang sama-samajatuh pada bulan Juli. Maka ketika bulan Juli tiba, aktifitas anak-anak di kampungku adalah bermain layang-layang. Meraut bambu, menimbangnya dengan benang kemudian membentuk kerangka layang-layang sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan adalah salah satu keterampilan yang dimiliki oleh anak-anak di kampungku. Seingat saya, hampir tidak ada anak-anak di kampungku yang tidak pandai membuat layang-layang. Mulai dari layang-layang yang berbahan kantong plastik, kertas koran, hingga kertas minyak. Mulai dari layang-layang ukuran kecil hingga layang-layang setinggi orang dewasa. Jika layang-layang yang diterbangkan kondisinya tidak stabil, maka cukup dengan menambahkan ekor sepanjang mungkin di bagian bawahnya, layang-layang tadi akan langsung dengan tenang melayang. Ini adalah salah satu ilmu membuat layang-layang yang saya ketahui. Saya tidak tahu ide ini datang dari siapa, tetapi begitulah kenyataannya dan memang terbukti.
Dalam bermain layang-layang ini ada fenomena menarik yang selalu saya saksikan. Yaitu ketika layang-layang yang diterbangkan tiba-tiba putus dihempaskan angin. Pada saat layang-layang ini terputus, maka layang-layang tersebut tidak lagi mutlak menjadi milik kita sampai kita mendapatkannya kembali. Sebab semua yang menyaksikan layang-layang putus tadi mempunyai hak untuk mengejar dan berpeluang mendapatkannya. Siapa dapat, dia punya. Ini merupakan aturan tidak tertulis yang telah disepakati.
Ketika layang-layang tadi terputus, maka sontak saja semua anak-anak yang menyaksikannya akan berteriak: 'layang-layang putus!.. layang-layang putus!.." Dan kejadian berikutnya adalah anak-anak tadi akan beramai-ramai mengejar layang-layang putus tersebut. Kemana pun angin membawa layang-layang itu, maka ke situ pula anak-anak tadi berlari mengejarnya. Dan mereka akan terus mengejar, tanpa menyerah, hingga mendapatkannya. Begitulah anak-anak mengisi liburan panjang di kampungku. Mereka menjadikan langit biru dibulan Juli di kampungku dihiasi dengan aneka ukuran dan warna layang-layang.
Belasan tahun yang lalu, kejar-mengejar layang-layang ini masih menjadi aktifitas saya mengisi liburan panjang sekolah. Enam tahun yang lalu adalah terakhir kalinya saya menyaksikan anak-anak kampungku berlarian mengejar layang-layang. Anak-anak ini sekarang pasti sudah besar. Dan menurut kebiasaan di kampungku, ketika anak-anaknya telah menamatkan SMU mereka akan segera merantau ke daerah lain. Entah itu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mencari pekerjaan, atau mengejar sesuatu yang bernama cita-cita. Untuk mengejar cita-cita ini, setidaknya kami pernah belajar dari mengejar layang-layang ketika kecil dulu. Seperti mengejar layang-layang, cita-cita itu akan terus dikejar, tanpa menyerah, hingga mendapatkannya, kemudian dibawa pulang untuk menghiasi langit biru di kampungku. Semoga!
Sepuluh ribu rupiah, apa artinya buat anda? Apa artinya buat saya? Seberapa besar sebenarnya nilai sepuluh ribu rupiah buat kita? Saya dan anda barangkali punya penilaian berbeda terhadap sepuluh ribu rupiah. Pengalaman saya berikut ini barangkali bisa memberikan gambaran kepada anda akan nilai sepuluh ribu rupiah bagi saya.
Waktu itu uang di dompet saya dua puluh ribu rupiah dengan rincian lima lembar uang seribuan, satu lembar uang lima ribuan dan selembar uang sepuluh ribuan. Dengan modal uang di dompet saya itu, saya mengajak seorang teman untuk membeli nasi goreng. “Saya yang traktir”, begitu ajakan saya pada teman tadi. Langsung saja teman saya mengiyakan, apalagi waktu itu tanggal dua puluh delapan. Kami pun memesan nasi goreng. Sambil menunggu pesanan, saya pergi ke kios di sebelah penjual nasi goreng tadi hendak membeli mie instant. Kepada penjaga kios saya memberikan uang sepuluh ribuan. Karena tidak mempunyai uang kembalian maka penjaga kios tadi meminta saya untuk memberinya uang pas, apalagi saya membeli mie instant hanya satu bungkus. Saya mengambil selembar uang seribuan dari dompet dan beberapa recehan dari saku celana saya. Transaksi selesai dan saya kembali ke penjual nasi goreng untuk mengecek pesanan. Setelah pesanan selesai, saya meminta kepada bapak penjual nasi goreng untuk merebus mie instant yang saya beli di kios sebelah. Saya mengeluarkan sebungkus mie instant dari saku jaket dan menyodorkannya kepada bapak penjual nasi goreng. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, sepiring mie kuah terhidang di meja kami. Jadilah menu kami waktu itu: nasi goreng dan mie kuah. Setelah makan kami duduk beberapa saat. Kemudian kami berdiri dan saya menuju ke bapak penjual nasi goreng hendak membayar pesanan kami. Oleh bapak penjual nasi goreng yang telah saya kenal ini, saya hanya diminta untuk membayar dua piring nasi goreng seharga delapan ribu rupiah. Sedangkan sepiring mie kuah tadi gratis. Saya meraba saku celana saya. Saya memeriksa isi dompet saya. Saya memeriksa saku jaket saya. Saya mencari uang sepuluh ribuang yang saya ceritakan diawal tadi. Tetapi ternyata uang sepuluh ribu tadi tidak ketemu juga. Untuk sepersekian detik saya sempat panik tetapi untunglah uang yang tersisa di dompet saya masih cukup untuk membayar dua piring nasi goreng.
Anda mungkin akan bertanya berapa uang yang tersisa di dompet saya setelah saya membayar dua piring nasi goreng tersebut? Silahkan anda pikirkan karena saya tidak akan memberikan jawabannya.
Kehilangan uang sepuluh ribu pada tanggal dua puluh delapan waktu itu, saya akui, memang cukup besar artinya bagi saya. Bukan karena nilai nominalnya tetapi lebih karena saya tidak tahu dimana uang itu terjatuh. Karena ketidaktahuan saya ini, maka sepanjang jalan menuju kamar kost, saya terus mengingat-ngingat dimana tepatnya uang tersebut jatuh. Karena saya tidak bisa mengetahuai tempat pastinya akhirnya pikiran saya terbebani. Untuk mengurangi beban pikiran setelah kehilangan itu, saya mencoba mengamalkan ajaran agama saya yaitu dengan mengucapkan: innalillahi wainnailaihi raajiun. Dan pikiran saya menjadi tenang setelahnya. Keesokan harinya disaat peristiwa kehilangan itu telah berangsur-angsur saya lupakan, saya mendengar sebuah nasehat dari stasiun radio favorit saya. Saya bisa saja menyebut ini sebagai sebuah kebetulan. Tetapi kebetualn ini pastilah sebuah kebetulan yang sudah ditentukan. Nasehat itu berbunyi seperti ini:
"Ketika kita kehilangan uang, kita kehilangan sedikit. Ketika kita kehilangan kesehatan, kita kehilangan banyak. Ketika kita kehilangan kepercayaan, kita kehilangan segalanya".
Saya terdiam dengan napas agak sesak… Kepada siapa saya telah kehilangan segalanya?
Tidak ada doa yang tidak dikabulkan. Begitulah saya selalu mendengar nasehat yang berhubungan dengan doa. Dan Tuhan akan merasa malu sekiranya kita menengadahkan tangan meminta kepada-Nya dan kemudian kita menurunkan tangan dalam keadaan hampa. Setidaknya, ada tiga bentuk terkabulnya doa kita. Pertama, kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita minta. Kedua, doa kita dikabulkan dalam bentuk kita dihindarkan dari musibah atau bahaya. Dan bentuk yang ketiga, doa yang kita panjatkan ditangguhkan dan akan diberikan kepada kita diakhirat kelak. Maka, berdoalah kamu niscaya akan Aku kabulkan, begitu kata Tuhan. Dengan keyakinan ini maka saya selalu berusaha agar disetiap kesempatan yang saya miliki dan disetiap urusan yang saya lakukan untuk tidak lupa memanjatkan doa kepada Tuhan.
Tentang doa ini, suatu hari saya mengikuti ujian final mata kuliah. Hari itu saya mengikuti dua mata kuliah yang diujikan. Maka, demi menghadapi ujian dihari itu, sejak beberapa hari sebelumnya saya telah mempersiapkan diri membaca dan berusaha memahami materi yang akan diujikan. Membaca dan berusaha memahami dan tidak lupa pula saya berdoa. Saya memohon kepada Tuhan agar diberikan ketenangan hati dan pikiran, kekuatan jiwa dan raga, serta dimudahkan dalam menjawab permasalahan yang diberikan pada saat ujian.
Dengan modal usaha dan doa yang saya lakukan, maka dihari itu saya menyatakan siap untuk mengikuti ujian. Hal ini saya buktikan dengan bangun lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Berangkat ke kampus dengan penuh semangat. Dan masuk ke dalam ruangan ujian dengan penuh percaya diri. Namun saya tidak bisa menampik kalau perasaan was-was terkadang datang disaat-saat sebelum lembar soal diberikan. Untuk perasaan was-was ini saya memahaminya sebagai sesuatu hal yang datang untuk menguji komitmen diri saya. Maju terus mengikuti ujian atau mundur sebelum “berperang”.
Dihari ujian itu, saya mendapatkan bukti kalau kehidupan itu memang penuh dengan misteri, penuh dengan ketidakpastian. Betapa tidak, sebelum ujian dihari itu saya membayangkan bahwa ujian yang akan saya hadapi adalah sebuah ujian dengan soal-soal yang cukup sulit, pengawasan yang ketat, dan atmosfer ruangan yang menegangkan. Ternyata beyangan saya terlalu jauh. Dihari itu saya menjalani ujian final dengan soal-soal yang cukup mudah, pengawasan yang longgar, dan atmosfer ruangan yang begitu santai. Itu untuk ujian final matakuliah yang pertama.
Dan anehnya pula, pada ujian final mata kuliah yang kedua, kondisinya kurang lebih sama dengan yang pertama. Bahkan dosen pengawas meninggalkan ruangan ujian dalam waktu yang cukup lama. Sehingga dalam waktu selama itu kami menjalani ujian tanpa pengawasan seorang pun. Dan akhirnya saya berhasil menuliskan jawaban pada lembaran kertas yang diberikan dan kemudian saya kumpulkan. Saya mengumpulkan lembar jawaban tersebut dan keluar dengan perasaan gembira. Gembira karena ujian dua mata kuliah telah saya selesaikan. Saya tinggal menunggu hasilnya pada rapor semester nanti.
Saya tidak ingin menceritakan kepada anda apa yang terjadi di dalam ruangan ujian dihari itu dibawah pengawasan yang begitu longgar bahkan tanpa pengawasan sama sekali. Namun, setelah melewati ujian dihari itu saya sempat merenung. Saya bertanya: apakah kemudahan yang saya dapatkan dalam ujian tersebut adalah buah dari usaha dan doa saya? Beginikah bentuk terkabulnya doa yang saya panjatkan beberapa hari sebelumnya? Saya belum tahu dan saya masih bertanya. Dalam perenungan itu saya tersadar bahwa barangkali yang terpenting tidaklah terletak pada seberapa banyak jawaban benar yang saya tuliskan dikertas jawaban. Tetapi bagaimana saya melewati ujian final tersebut dengan melalui tahapan dan proses yang benar meskipun dengan atau tanpa pengawasan. Disinilah ujian yang sesungguhnya barangkali.
Dengan segala usaha dan doa yang telah saya panjatkan, kemudian saya berdoa lagi semoga apa yang saya hasilkan dari ujian final dihari itu mendapat berkah dari Tuhan. Amien.