Sepuluh ribu rupiah, apa artinya buat anda? Apa artinya buat saya? Seberapa besar sebenarnya nilai sepuluh ribu rupiah buat kita? Saya dan anda barangkali punya penilaian berbeda terhadap sepuluh ribu rupiah. Pengalaman saya berikut ini barangkali bisa memberikan gambaran kepada anda akan nilai sepuluh ribu rupiah bagi saya.
Waktu itu uang di dompet saya dua puluh ribu rupiah dengan rincian lima lembar uang seribuan, satu lembar uang lima ribuan dan selembar uang sepuluh ribuan. Dengan modal uang di dompet saya itu, saya mengajak seorang teman untuk membeli nasi goreng. “Saya yang traktir”, begitu ajakan saya pada teman tadi. Langsung saja teman saya mengiyakan, apalagi waktu itu tanggal dua puluh delapan. Kami pun memesan nasi goreng. Sambil menunggu pesanan, saya pergi ke kios di sebelah penjual nasi goreng tadi hendak membeli mie instant. Kepada penjaga kios saya memberikan uang sepuluh ribuan. Karena tidak mempunyai uang kembalian maka penjaga kios tadi meminta saya untuk memberinya uang pas, apalagi saya membeli mie instant hanya satu bungkus. Saya mengambil selembar uang seribuan dari dompet dan beberapa recehan dari saku celana saya. Transaksi selesai dan saya kembali ke penjual nasi goreng untuk mengecek pesanan. Setelah pesanan selesai, saya meminta kepada bapak penjual nasi goreng untuk merebus mie instant yang saya beli di kios sebelah. Saya mengeluarkan sebungkus mie instant dari saku jaket dan menyodorkannya kepada bapak penjual nasi goreng. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, sepiring mie kuah terhidang di meja kami. Jadilah menu kami waktu itu: nasi goreng dan mie kuah. Setelah makan kami duduk beberapa saat. Kemudian kami berdiri dan saya menuju ke bapak penjual nasi goreng hendak membayar pesanan kami. Oleh bapak penjual nasi goreng yang telah saya kenal ini, saya hanya diminta untuk membayar dua piring nasi goreng seharga delapan ribu rupiah. Sedangkan sepiring mie kuah tadi gratis. Saya meraba saku celana saya. Saya memeriksa isi dompet saya. Saya memeriksa saku jaket saya. Saya mencari uang sepuluh ribuang yang saya ceritakan diawal tadi. Tetapi ternyata uang sepuluh ribu tadi tidak ketemu juga. Untuk sepersekian detik saya sempat panik tetapi untunglah uang yang tersisa di dompet saya masih cukup untuk membayar dua piring nasi goreng.
Anda mungkin akan bertanya berapa uang yang tersisa di dompet saya setelah saya membayar dua piring nasi goreng tersebut? Silahkan anda pikirkan karena saya tidak akan memberikan jawabannya.
Kehilangan uang sepuluh ribu pada tanggal dua puluh delapan waktu itu, saya akui, memang cukup besar artinya bagi saya. Bukan karena nilai nominalnya tetapi lebih karena saya tidak tahu dimana uang itu terjatuh. Karena ketidaktahuan saya ini, maka sepanjang jalan menuju kamar kost, saya terus mengingat-ngingat dimana tepatnya uang tersebut jatuh. Karena saya tidak bisa mengetahuai tempat pastinya akhirnya pikiran saya terbebani. Untuk mengurangi beban pikiran setelah kehilangan itu, saya mencoba mengamalkan ajaran agama saya yaitu dengan mengucapkan: innalillahi wainnailaihi raajiun. Dan pikiran saya menjadi tenang setelahnya. Keesokan harinya disaat peristiwa kehilangan itu telah berangsur-angsur saya lupakan, saya mendengar sebuah nasehat dari stasiun radio favorit saya. Saya bisa saja menyebut ini sebagai sebuah kebetulan. Tetapi kebetualn ini pastilah sebuah kebetulan yang sudah ditentukan. Nasehat itu berbunyi seperti ini:
"Ketika kita kehilangan uang, kita kehilangan sedikit. Ketika kita kehilangan kesehatan, kita kehilangan banyak. Ketika kita kehilangan kepercayaan, kita kehilangan segalanya".
Saya terdiam dengan napas agak sesak… Kepada siapa saya telah kehilangan segalanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar