01 Desember 2008

ujian dan doa

Tidak ada doa yang tidak dikabulkan. Begitulah saya selalu mendengar nasehat yang berhubungan dengan doa. Dan Tuhan akan merasa malu sekiranya kita menengadahkan tangan meminta kepada-Nya dan kemudian kita menurunkan tangan dalam keadaan hampa. Setidaknya, ada tiga bentuk terkabulnya doa kita. Pertama, kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita minta. Kedua, doa kita dikabulkan dalam bentuk kita dihindarkan dari musibah atau bahaya. Dan bentuk yang ketiga, doa yang kita panjatkan ditangguhkan dan akan diberikan kepada kita diakhirat kelak. Maka, berdoalah kamu niscaya akan Aku kabulkan, begitu kata Tuhan. Dengan keyakinan ini maka saya selalu berusaha agar disetiap kesempatan yang saya miliki dan disetiap urusan yang saya lakukan untuk tidak lupa memanjatkan doa kepada Tuhan.

Tentang doa ini, suatu hari saya mengikuti ujian final mata kuliah. Hari itu saya mengikuti dua mata kuliah yang diujikan. Maka, demi menghadapi ujian dihari itu, sejak beberapa hari sebelumnya saya telah mempersiapkan diri membaca dan berusaha memahami materi yang akan diujikan. Membaca dan berusaha memahami dan tidak lupa pula saya berdoa. Saya memohon kepada Tuhan agar diberikan ketenangan hati dan pikiran, kekuatan jiwa dan raga, serta dimudahkan dalam menjawab permasalahan yang diberikan pada saat ujian.

Dengan modal usaha dan doa yang saya lakukan, maka dihari itu saya menyatakan siap untuk mengikuti ujian. Hal ini saya buktikan dengan bangun lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Berangkat ke kampus dengan penuh semangat. Dan masuk ke dalam ruangan ujian dengan penuh percaya diri. Namun saya tidak bisa menampik kalau perasaan was-was terkadang datang disaat-saat sebelum lembar soal diberikan. Untuk perasaan was-was ini saya memahaminya sebagai sesuatu hal yang datang untuk menguji komitmen diri saya. Maju terus mengikuti ujian atau mundur sebelum “berperang”.

Dihari ujian itu, saya mendapatkan bukti kalau kehidupan itu memang penuh dengan misteri, penuh dengan ketidakpastian. Betapa tidak, sebelum ujian dihari itu saya membayangkan bahwa ujian yang akan saya hadapi adalah sebuah ujian dengan soal-soal yang cukup sulit, pengawasan yang ketat, dan atmosfer ruangan yang menegangkan. Ternyata beyangan saya terlalu jauh. Dihari itu saya menjalani ujian final dengan soal-soal yang cukup mudah, pengawasan yang longgar, dan atmosfer ruangan yang begitu santai. Itu untuk ujian final matakuliah yang pertama.

Dan anehnya pula, pada ujian final mata kuliah yang kedua, kondisinya kurang lebih sama dengan yang pertama. Bahkan dosen pengawas meninggalkan ruangan ujian dalam waktu yang cukup lama. Sehingga dalam waktu selama itu kami menjalani ujian tanpa pengawasan seorang pun. Dan akhirnya saya berhasil menuliskan jawaban pada lembaran kertas yang diberikan dan kemudian saya kumpulkan. Saya mengumpulkan lembar jawaban tersebut dan keluar dengan perasaan gembira. Gembira karena ujian dua mata kuliah telah saya selesaikan. Saya tinggal menunggu hasilnya pada rapor semester nanti.

Saya tidak ingin menceritakan kepada anda apa yang terjadi di dalam ruangan ujian dihari itu dibawah pengawasan yang begitu longgar bahkan tanpa pengawasan sama sekali. Namun, setelah melewati ujian dihari itu saya sempat merenung. Saya bertanya: apakah kemudahan yang saya dapatkan dalam ujian tersebut adalah buah dari usaha dan doa saya? Beginikah bentuk terkabulnya doa yang saya panjatkan beberapa hari sebelumnya? Saya belum tahu dan saya masih bertanya. Dalam perenungan itu saya tersadar bahwa barangkali yang terpenting tidaklah terletak pada seberapa banyak jawaban benar yang saya tuliskan dikertas jawaban. Tetapi bagaimana saya melewati ujian final tersebut dengan melalui tahapan dan proses yang benar meskipun dengan atau tanpa pengawasan. Disinilah ujian yang sesungguhnya barangkali.

Dengan segala usaha dan doa yang telah saya panjatkan, kemudian saya berdoa lagi semoga apa yang saya hasilkan dari ujian final dihari itu mendapat berkah dari Tuhan. Amien.


ditulis di Makassar, 22 Mei 2008

Tidak ada komentar: