07 Juni 2009

saya teriak, “horee!” buat Iwan Fals

Saya membaca Laskar Pelangi. Saya membaca Sang Pemimpi. Di kedua novel ini, setiap kali Ikal (Andrea Hirata) menyinggung soal artis pujaannya, pastilah nama Rhoma Irama selalu tertulis disitu. Rhoma Irama adalah artis pujaan bagi Anderea Hirata, si Ikal itu.

Suatu malam saya membaca Edensor. Ketika dalam buku itu, Andrea Hirata kembali menegaskan bahwa Rhoma Irama adalah artis kesayangannya, saya berhenti membaca. Saya teringat Iwan Fals. Saya teringat penyanyi idola saya. Ia menjadi idola walaupun belum satu kali pun saya bertemu langsung dengannya. Saya mengidolakannya hanya melalui karya-karya lagunya. Itulah sebabnya ketika saya menuliskan 100 cita-cita saya dalam sebuah buku catatan pribadi, perihal bertemu dengan Iwan Fals ini menjadi salah satu cita-cita saya diantara yang seratus itu.

Saya mulai akrab dengan lagu-lagu Iwan Fals ketika saya duduk di kelas 2 SMU. Sejak saat itu saya mulai mengoleksi lagu-lagu Iwan Fals. Saya membeli kaset kosong untuk merekam lagu-lagu Iwan Fals. Setiap menyetel siaran radio, saya selalu menaruh kaset kosong tersebut dalam keadaan siap merekam. Hal ini saya lakukan untuk berjaga-jaga kalau-kalau lagu yang diputar adalah lagunya Iwan Fals. Maka, jika lagu yang diputar memang benar lagunya Iwan Fals, saya tinggal menekan tombol yang bertanda merah dan bertuliskan rec pada radio tape. Begitulah awalnya saya mengakrabkan diri dengan lagu-lagu Iwan Fals.

Saya tertarik dengan lagu Iwan Fals karena beberapa alasan. Yang pertama, warna musiknya. Soal warna musik Iwan Fals, seperti ini penggambaran saya: tenang, tidak banyak bunyi, dapat menormalkan detakan jantung. Alasan yang kedua adalah syair lagunya. Bahasanya sederhana, apa adanya, menyinggung soal-soal kebangsaan, kadang berbicara soal-soal ketimpangan sosial, kadang mengkritik penguasa, tetapi begitu romantis kalau sudah berbicara soal cinta. Yang ketiga, saya tertarik karena Iwan Fals punya idealisme tersendiri dalam bermusik. Atau katakanlah punya ciri khas. Dan ciri khas ini cocok dengan selera musik saya.

Berikut ini beberapa lagu Iwan Fals yang menyinggung persoalan-persoalan kebangsaan kita. Ketika harga BBM dinaikkan, ada lagu galang rambu anarki: bbm naik tinggi susu tak terbeli, orang bijak tarik subsidi bayi kami kurang gizi…. Ketika mahasiswa berdemo dan dihalau oleh aparat, ada lagu para tentara: para tentara jangan pukul teman kami … Ketika banyak orang berkampanye untuk menjadi anggota DPR, saya teringat lagu wakil rakyat-nya Iwan Fals : wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat... Ketika berbicara soal skripsi yang diperjualbelikan, dengarlah lagu temanku punya kawan: buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri… Dan ketika hari ini banyak sarjana yang susah mencari kerja, dengarlah sarjana muda: empat tahun lamanya bergelut dengan buku, sia-sia semuanya …..

Soal lagu sarjana muda, saya punya cerita tersendiri. Suatu kali saya dan seorang teman mendengarkan lagu ini. Sambil mendengar kami juga turut bernyanyi. Kami menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Dan diakhir lagu kami sama-sama meneriakkan: “horee..!”

Mau tahu apa alasannya kami berteriak, “horee”? Baiklah. Tetapi sebelumnya, inilah beberapa baris kata di lagu itu.
…………….
engkau sarjana muda resah tak dapat kerja
tak berguna ijazahmu
empat tahun lamanya bergelut dengan buku
sia-sia semuanya
…………..
Kami meneriakkan “horee” karena kami tahu bahwa lagu itu tidak ditujukan untuk kami. Sebab, saat ini kami telah kuliah selama hampir 7 tahun dan baru saja sarjana…
Tetap s’mangat

Tidak ada komentar: