01 Desember 2008

langit biru di kampungku

ditulis di Makassar, Juni 2008


Saya membalik lembaran kalender yang tergantung di dinding kamarku. Sebulan telah berlalu dan kini saya membuka lembaran kalender untuk bulan yang baru. Sekarang bulan Juni. Kegiatan perkuliahan disemester genap tahun ajaran kali ini telah selesai. Itu berarti telah genap pula 12 semester saya berkuliah di kampus ini. Menurut peraturan akademik di kampusku, masa studi maksimal yang diberikan kepada seorang mahasiswa adalah 7 tahun atau 14 semester. Jika selama waktu tersebut seorang mahasiswa tidak mampu menyelesaikan studinya, maka menurut peraturan akademik mahasiswa yang bersangkutan akan dikeluarkan atau didrop out (DO). Tetapi, saya yakin bahwa saya tidak akan menghabiskan waktu selama itu untuk meraih gelar kesarjanaan. Karena pada semester kali ini, semua mata kuliah saya telah rampung. Saya hanya menyisakan KKN dan Tugas Akhir. Dua agenda yang terakhir ini saya targetkan akan rampung pada semester awal yang akan datang, yang baru akan dimulai pada pertengahan Agustus nanti.


Sekarang masih bulan Juni, ini berarti bahwa ada jeda panjang kurang lebih dua bulan untuk aktifitas perkuliahan sebelum dimulai kembali pada Agustus mendatang. Dulu, diawal-awal menjadi mahasiswa, masa-masa jeda seperti sekarang ini oleh sebagian mahasiswa dimanfaatkan untuk memprogramkan semester pendek guna memperbaiki nilai-nilai yang belum memuaskan pada semester panjang yang telah dilalui. Bagi teman-teman yang aktif di Lembaga Kemahasiswaan, waktu jeda ini dipakai untuk mempersiapkan acara Penyambutan Mahasiswa Baru. Dan sebagian lagi memanfaatkannya untuk berlibur dan pulang ke kampung halaman masing-masing. Untuk urusan pulang kampung ini, saya termasuk mahasiswa yang kurang berpengalaman alias jarang pulang kampung. Pada saat jeda semester ditahun pertama, saya mengisinya dengan memprogramkan semester pendek. Ketika itu saya berharap semoga mata kuliah yang akan saya programkan pada semester penjang berikutnya bisa saya lulusi dengan memuaskan sehingga saya tidak perlu lagi memperbaikinya pada semester pendek yang akan datang. Dengan berharap begitu, mudah-mudahan jeda panjang ditahun depannya bisa saya manfaatkan untuk pulang ke kampung. Jadi, biarlah kerinduanku kepada kampung halaman saya simpan dulu hingga menumpuk untuk dibawa pulang ditahun berikutnya. Tetapi, pada tahun berikutnya saya juga tidak jadi pulang. Ini disebabkan karena nama saya masuk dalam daftar kepanitiaan Penyambutan Mahasiswa Baru di fakultasku.


Sekarang bulan Juni. Dan jeda panjang datang lagi. Juni kali ini adalah Juni yang keenam kalinya saya dapati selama saya berstatus mahasiswa. Dan tidak sekalipun saya memanfaatkannya untuk pulang ke daerah saya. Informasi mengenai perkembangan daerahku saya bisa mendapatkannya dari teman-teman yang sempat pulang atau dari adik-adik sekampungku yang datang ke daerah ini untuk mengikuti SPMB. Dari dua sumber ini saya bisa tahu kalau jalan-jalan di daerahku telah dipasangi lampu jalan. Tentang lampu jalan ini, menurut cerita dari teman-teman, jika kita memandang dari atas kapal yang akan berlabuh dimalam hari, maka cahaya lampu di sepanjang jalan di tepi pantai menjadikan daerahku yang kecil itu menjadi mirip kota Hongkong. Apakah mirip atau tidak, bagi saya itu tidak jadi soal. Dipasangi lampu jalan saja saya sudah cukup senang. Saya bisa membayangkan jalan-jalan di daerahku pasti tidak lagi segelap dulu ketika saya meninggalkannya.


Soal keramaian kota di daerahku, saya mendapatkan kabar bahwa daerahku masih tetap seperti dulu. Untuk menemukan keramaian kota, kita hanya perlu datang ke pasar sentral yang letaknya di tepi pantai. Pasar sentral ini adalah satu-satunya pasar yang terdapat di kotaku. Jangan berharap akan menemukan keramaian kota dimalam hari seperti di kota-kota besar. Di kotaku ini, jika waktu telah menunjukkan jam 10 malam, kebanyakan masyarakatnya sudah tidur terlelap sebab tidak ada tempat hiburan keluarga yang bisa dikunjungi dimalam hari.

Saya juga mendapatkan informasi kalau keadaan lingkungan di sekitar rumahku di kampung sudah tidak seramai dulu lagi. Ini disebabkan anak-anak disana kebanyakan telah tamat SMU dan memilih untuk merantau ke daerah lain. Entah itu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi ataupun untuk mencari pekerjaan, atau untuk sesuatu yang entah. Teman-teman sepermainanku dulu juga telah pergi merantau dan kabarnya mereka juga jarang pulang seperti saya. Kondisi ini pula yang menjadi salah satu alasan saya tidak pulang kampung pada saat jeda panjang disetiap akhir semester.


Saya ingin bercerita sedikit tentang rumahku, rumah dimana saya tumbuh dan dibesarkan, yang saya tinggalkan 6 tahun yang lalu. Rumah saya ini terletak di sebuah lorong setapak. Di kiri dan kanannya tidak terdapat banyak rumah. Setelah 6 tahun berlalu hanya ada beberapa rumah baru yang bertambah di sekitarnya. Dan ini tetap saja tidak mengganti keramaian yang dulu pernah ada disana. Rumah saya ini berbatasan langsung dengan hutan. Karenanya, bila malam hari tiba masih sering terdengar suara babi hutan yang keluar untuk mencari makan di kebun sekitar rumahku. Suara jangkrik adalah bunyi yang akan selalu terdengar mengiringi tidur lelap dimalam hari. Kadang-kadang juga terdengar suara burung hantu dari atas pepohonan di tepi hutan. Bila musim jambu mete tiba akan sering terdengar suara kelelawar yang berebut memakan buah jambu mete. Bagi saya, semua itu adalah satu paket lengkap yang menjadikan suasana malam hari di kampungku terasa begitu alami.


Di sekitar rumahku juga tumbuh berbagai jenis tanaman bambu. Ada jenis bambu pagar, yang ditanam sebagai pagar hidup. Ada bambu buluh yang ruasnya panjang-panjang dengan diameter batangnya kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Dan ada pula jenis bambu yang panjangnya bisa mencapai 20 meter. Dari tanaman bambu ini, anak-anak di kampungku biasa memanfaatkannya sebagai bahan pembuat kerangka layang-layang.


Musim layang-layang di kampungku pasti ramai sebab bertepatan dengan masa liburan panjang anak sekolah yang sama-sama jatuh pada bulan Juli. Maka ketika bulan Juli tiba, aktifitas anak-anak di kampungku adalah bermain layang-layang. Meraut bambu, menimbangnya dengan benang kemudian membentuk kerangka layang-layang sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan adalah salah satu keterampilan yang dimiliki oleh anak-anak di kampungku. Seingat saya, hampir tidak ada anak-anak di kampungku yang tidak pandai membuat layang-layang. Mulai dari layang-layang yang berbahan kantong plastik, kertas koran, hingga kertas minyak. Mulai dari layang-layang ukuran kecil hingga layang-layang setinggi orang dewasa. Jika layang-layang yang diterbangkan kondisinya tidak stabil, maka cukup dengan menambahkan ekor sepanjang mungkin di bagian bawahnya, layang-layang tadi akan langsung dengan tenang melayang. Ini adalah salah satu ilmu membuat layang-layang yang saya ketahui. Saya tidak tahu ide ini datang dari siapa, tetapi begitulah kenyataannya dan memang terbukti.


Dalam bermain layang-layang ini ada fenomena menarik yang selalu saya saksikan. Yaitu ketika layang-layang yang diterbangkan tiba-tiba putus dihempaskan angin. Pada saat layang-layang ini terputus, maka layang-layang tersebut tidak lagi mutlak menjadi milik kita sampai kita mendapatkannya kembali. Sebab semua yang menyaksikan layang-layang putus tadi mempunyai hak untuk mengejar dan berpeluang mendapatkannya. Siapa dapat, dia punya. Ini merupakan aturan tidak tertulis yang telah disepakati.

Ketika layang-layang tadi terputus, maka sontak saja semua anak-anak yang menyaksikannya akan berteriak: 'layang-layang putus!.. layang-layang putus!.." Dan kejadian berikutnya adalah anak-anak tadi akan beramai-ramai mengejar layang-layang putus tersebut. Kemana pun angin membawa layang-layang itu, maka ke situ pula anak-anak tadi berlari mengejarnya. Dan mereka akan terus mengejar, tanpa menyerah, hingga mendapatkannya. Begitulah anak-anak mengisi liburan panjang di kampungku. Mereka menjadikan langit biru dibulan Juli di kampungku dihiasi dengan aneka ukuran dan warna layang-layang.


Belasan tahun yang lalu, kejar-mengejar layang-layang ini masih menjadi aktifitas saya mengisi liburan panjang sekolah. Enam tahun yang lalu adalah terakhir kalinya saya menyaksikan anak-anak kampungku berlarian mengejar layang-layang. Anak-anak ini sekarang pasti sudah besar. Dan menurut kebiasaan di kampungku, ketika anak-anaknya telah menamatkan SMU mereka akan segera merantau ke daerah lain. Entah itu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mencari pekerjaan, atau mengejar sesuatu yang bernama cita-cita. Untuk mengejar cita-cita ini, setidaknya kami pernah belajar dari mengejar layang-layang ketika kecil dulu. Seperti mengejar layang-layang, cita-cita itu akan terus dikejar, tanpa menyerah, hingga mendapatkannya, kemudian dibawa pulang untuk menghiasi langit biru di kampungku. Semoga!



Tidak ada komentar: